Mengurai Benang Kusut Kemiskinan

Menggunakan latar pesisir Jawa tahun 2000-an, Pangku (2025), sebuah film karya Reza Rahardian menceritakan tentang seorang perempuan bernama Sartika yang bekerja sebagai pelayan kopi karena himpitan ekonomi. Tidak hanya menjajakan kopi di warung tempatnya bekerja, tubuh dari perempuan ini juga menjadi komoditas yang “diobral” demi menyambung hidup.

Bagi perempuan seperti Sartika, hidup di bawah garis kemiskinan membuat gengsi dalam memilih pekerjaan tidak pernah muncul sebagai pertimbangan utama. Apapun akan ia lakukan selama ia dan anaknya bisa mengunyah satu dua piring nasi di hari itu.

Apa yang dialami oleh Sartika di film Pangku merupakan potret kemiskinan yang disebabkan oleh keterbelakangan sosiologis. Dalam perspektif ini, ketimpangan struktural membuat orang miskin sulit untuk naik kelas. Sebanyak apa pun upaya yang dilakukan, bila sistem sosial-ekonomi tidak berpihak, mereka akan tetap terjebak dalam lingkaran kemiskinan yang sama.

Di dalam sistem yang timpang, Sartika semakin rentan karena fakror ketersisihan. Perempuan dari kelas sosial-ekonomi dan pendidikan yang rendah sulit untuk mengakses pekerjaan formal yang layak. Akibatnya, ia dikondisikan untuk terlibat dalam pekerjaan penuh risiko, yang turut mengkomodifikasi tubuhnya.

Dari film Pangku, kita menyaksikan bagaimana persoalan kemiskinan merupakan isu yang kompleks. Ia bukan hanya soal uang. Pengentasan kemiskinan perlu menggunakan kacamata multidimensi untuk menangkap hal-hal yang selama ini tak kasat mata dalam membatasi pilihan-pilihan hidup masyarakat miskin.

Ditulis oleh: Georgia Maisy


SMERU Learning Centre menyediakan kelas pembelajaran elektronik (e-learning) untuk mempelajari ragam konsep dan dimensi kemiskinan. Akses modul e-learning kami kapan saja, dimana saja! Selengkapnya klik di sini.

Keranjang Belanja
Scroll to Top