Dalam penelitian sosial, etika bukan sekadar formalitas. Ia merupakan fondasi yang menjamin bahwa sebuah penelitian telah dilaksanakan secara bertanggung jawab. Penghormatan terhadap prinsip etika menjadi keharusan sebab penelitian sosial umumnya menyentuh kehidupan nyata individu dan kelompok—yang dapat bersinggungan dengan isu-isu sensitif seperti perlindungan anak, kekerasan seksual, dan kekerasan dalam rumah tangga.
Mengelola Risiko dan Menjamin Tanggung Jawab
Etika bertujuan untuk memitigasi berbagai risiko yang mungkin timbul selama proses penelitian. Tiga aspek utama yang perlu diperhatikan meliputi:
- Manfaat dan Dampak
Penelitian harus memberikan nilai tambah, baik secara ilmiah maupun sosial, dengan meminimalkan potensi kerugian bagi partisipan dan komunitas. - Hak dan Kedaulatan Individu
Pengambilan data harus dilakukan dengan persetujuan yang jelas dan sukarela, serta menjamin perlindungan terhadap privasi dan identitas partisipan. - Kesetaraan dan Keadilan
Seluruh proses, mulai dari pengumpulan data/ informan hingga publikasi hasil, perlu dilandasi prinsip inklusivitas dan bebas dari bias.
Etika yang dijalankan secara konsisten memperkuat akuntabilitas penelitian dan membangun kepercayaan antara peneliti, partisipan, dan publik.
Peneliti Boleh Salah, Namun Tidak Boleh Bohong
Dalam dunia akademik, kesalahan dapat terjadi dan merupakan bagian dari proses ilmiah. Namun, ketidakjujuran merupakan pelanggaran serius terhadap integritas penelitian. Kebohongan, sekecil apa pun, merusak kredibilitas riset dan dapat menimbulkan dampak negatif yang luas—terutama bila hasilnya dijadikan dasar penyusunan kebijakan publik. Oleh karena itu, kejujuran harus menjadi prinsip utama yang tidak dapat dikompromikan.
Beberapa bentuk kecurangan yang perlu dihindari meliputi:
- Plagiarisme: Menggunakan karya orang lain tanpa pengakuan yang layak.
- Fabrikasi dan Pemalsuan Data: Menciptakan atau memanipulasi data agar sesuai dengan harapan.
- Pengumpulan dan Penggunaan Data secara Tidak Etis: Melibatkan partisipan tanpa persetujuan, atau menggunakan data secara tidak bertanggung jawab.
- Konflik Kepentingan yang Tidak Diungkapkan: Gagal menyampaikan adanya afiliasi atau motif pribadi yang dapat memengaruhi objektivitas.
Kode etik bukan sekadar pedoman teknis, tetapi cerminan komitmen moral terhadap praktik penelitian yang adil, transparan, dan bermakna. Dengan menjunjung tinggi etika, peneliti berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan yang tidak hanya valid secara metodologis, tetapi juga relevan dan berdampak secara sosial.
Etika bukan hanya urusan administratif—ia adalah inti dari praktik penelitian yang bertanggung jawab dan berdaya guna. Penelitian yang menjunjung tinggi etika akan lebih dipercaya, lebih kuat dampaknya, dan lebih siap menjadi dasar pengambilan kebijakan publik yang adil.
Untuk itu, membekali diri dengan pemahaman dan keterampilan riset yang menyeluruh adalah langkah penting.
SMERU Learning Centre adalah platform pelatihan yang dikembangkan oleh The SMERU Research Institute, lembaga riset independen dengan pengalaman lebih dari 20 tahun dalam penelitian dan analisis kebijakan di Indonesia.
Melalui pendekatan berbasis bukti dan praktik lapangan, SMERU Learning Centre menawarkan pelatihan riset kebijakan dari hulu ke hilir—mulai dari perencanaan penelitian, pengumpulan dan analisis data, komunikasi riset ke kebijakan, hingga etika penelitian sebagai pilar utama dalam setiap proses.
Tersedia juga Program Pelatihan Eksklusif (customized/in-house training) yang dirancang khusus untuk menjawab tantangan dan kebutuhan spesifik lembaga, baik di tingkat pusat maupun daerah, termasuk kerja sama dengan lembaga pemerintah, organisasi masyarakat sipil, dan mitra internasional.
🔗 Temukan pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan Anda di sini.